
Pada era digital, masyarakat sudah semakin mudah mendapatkan akses soal hidup sehat. Mulai dari kadar gula hingga kalori, kerap menjadi isu hangat dalam pembahasan publik.
Untuk memberikan wawasan lebih lagi seputar kaitan makanan dan manfaatnya dalam kesehatan tubuh, Program Studi Teknologi Pangan Universitas Kristen (UK) Petra mengundang Prof. Sherry A. Tanumihardjo, Ph. D., dalam Kuliah Umum “The Importance of Bioavailability when Evaluating Nutrients and Bioactives”, pada 26 Mei 2026 lalu.
Sherry menjelaskan, kemampuan tubuh menyerap nutrisi dipengaruhi kondisi gizi individu. Pada mineral seperti zat besi dan seng, tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengatur penyerapan agar tidak berlebihan. Kelebihan zat besi dapat berdampak negatif bagi kesehatan, karena memicu pembentukan senyawa yang merusak sel-sel tubuh.
“Jika Anda menyerap terlalu banyak zat besi, itu bukanlah hal yang baik karena akan menghasilkan banyak spesies oksigen reaktif,” jelasnya di Gedung W Ruang 303 UK Petra.
Karena itu, Sherry mendorong masyarakat untuk memperbanyak konsumsi sayuran. Sayuran memiliki fungsi melindungi tubuh dari dampak negatif zat gizi yang menjadi toksik ketika jumlahnya berlebihan. “Pigmen dalam sayuran melindungi tubuh dari beberapa konsekuensi negatif nutrisi yang dapat menjadi beracun ketika diserap terlalu banyak,” ujarnya.
Yosinta Christie Setiabudi, S.T.P., M.Sc., Dosen Program Studi Teknologi Pangan UK Petra bercerita, ia mendapatkan wawasan baru, khususnya berkaitan dengan vitamin A dari kuliah umum ini. “Tiap orang itu punya kecocokan yang berbeda-beda dengan vitamin A. jadi, ada yang bisa menyimpan lebih banyak, atau lebih sedikit, dan juga disimpan terlalu banyak, nanti vitamin A ada kemungkinan untuk menjadi toxic,” ujarnya.
Begitu pula Suharto, salah satu peserta dari SMA Kristen Petra 1, Surabaya. Ia menjelaskan bahwa kembali melirik makanan alami sebagai sumber gizi manusia menjadi topik menarik buatnya. “Kita nggak perlu bingung-bingung harus minum-minum suplemen yang aneh-aneh, yang bisa menjadi toxic dan berbahaya. Secara alami saja, tapi juga harus memperhatikan komposisi makanan,” ujarnya. (YER/Aj)


